Kolaborasi Holistei dan Inarcons Hadirkan Konsep Desa Wisata Berkelanjutan di Bali

Bali – Sebuah langkah baru dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan di Bali diperkenalkan melalui kolaborasi antara Holistei dan Inarcons. Kedua pihak menghadirkan konsep desa wisata berkesinambungan yang tidak hanya mendukung sektor pariwisata, tetapi juga tetap menjaga kelestarian alam serta nilai budaya lokal.

CEO Holistei, Lili T., menjelaskan bahwa konsep ini lahir dari kesadaran bahwa perkembangan usaha pariwisata di Bali harus tetap memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.

“Di Bali, usaha penginapan harus bisa mensejahterakan penduduk lokal tanpa merusak alam atau budaya. Nilai-nilai budaya dan tradisi ini adalah aset yang bisa dikembangkan—seperti tanah. Jika digunakan terus tanpa dipupuk, tentu unsur haranya akan habis,” ujar Lili.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Inarcons yang bergerak di bidang ekosistem arsitektur dan konstruksi digital, akan menyelenggarakan sebuah sayembara desain untuk merancang konsep glamping yang dapat diterapkan di desa-desa wisata. Sayembara ini mencakup perancangan desain bangunan, pencarian material yang sesuai, hingga penyusunan anggaran pembangunan.

Dalam pelaksanaannya, Inarcons juga mengajak Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Bali serta berbagai lembaga pendidikan di Bali untuk berkolaborasi dalam merancang konsep tersebut.

CEO Inarcons, Daniel T., menegaskan bahwa proyek ini juga akan membuka peluang besar bagi pelaku usaha lokal, khususnya produsen material bangunan.

“Kami akan membuka kesempatan bagi produsen material bangunan lokal untuk ikut mewujudkan konsep ini. Kami juga akan selalu berusaha memprioritaskan perusahaan lokal dalam pelaksanaan proyek ini,” jelas Daniel.

Sebagai tahap awal, proyek ini akan mulai dikembangkan di Desa Tembuku, Bangli. Desa ini dipilih sebagai lokasi percontohan untuk penerapan konsep glamping berbasis desa wisata yang berkelanjutan.

Lili menambahkan bahwa konsep yang dikembangkan tidak hanya berfokus pada pariwisata, tetapi juga pada keseimbangan antara manusia, alam, dan budaya.

“Konsep yang kami garap diharapkan dapat membantu pertumbuhan perekonomian lokal, tidak merusak alam, serta tetap sejalan dengan budaya dan tradisi masyarakat Bali, sesuai dengan filosofi Tri Hita Karana,” tutupnya.

Melalui kolaborasi ini, Holistei dan Inarcons berharap dapat menghadirkan model pengembangan desa wisata yang berkelanjutan dan dapat direplikasi di berbagai wilayah lainnya di Indonesia.